Lalu tangan kami saling menggenggam malam itu, kemudian bertatapan dengan banyak pertanyaan yang tak terkatakan. Hati kami menjawab sendiri-sendiri tentang kemungkinan apa yang akan terjadi andai mulut membuka keberaniannya mengungkap keingintahuan.

Padanya malam itu ingin sekali kukatakan;

**

“Aku mencintaimu, tak pernah tidak sampai saat ini. Dan kupastikan itu sampai nanti, sampai entah kapan yang tak akan bisa kau mengerti mengapa bisa selama itu aku mencintaimu mampu.

Aku selalu mencintaimu, saat tepat kau pikir aku sudah tidak. Aku selalu mencintaimu, saat ternyata dengan perempuan lain kaupikir aku sudah berdua. Aku selalu mencintaimu, bahkan ketika kau tidak.

Lalu mungkin kau bertanya, kemana aku saat kemarin juga dulu hilang tak ada membuktikan apa yang sekarang kukatakan.

Ketiadaanku adalah salah satu pembuktian bahwa benar aku mencintaimu. Tak lagi kubuktikan itu hanya karena dengannya kau sudah berdua, dan kau mengaku bahagia.

Aku mencintaimu, selain karena itu membahagiakanku, aku juga ingin membahagiakanmu. Namun saat dengannya kau sudah bahagia, untuk apa aku membuktikan bahwa membahagiakanmu hanya aku yang bisa?

Benar aku mencintaimu, maka aku tak ingin menjadi salah dengan masuk diantara kau dan dia. Dengannya kau sekarang berdua, biar kesendirianku memberitahumu bahwa setiaku untukmu akan tetap ada tanpa kau minta.

Menyerah mudah, andai bukan kau alasannya”.

**

Sayang itu tak kukatakan, dan tentu dia tak mendengar.

Kami berdiri, saling memeluk. Lama tak bertemu, aku sampai lupa bahwa pelukan itu yang selalu menenangkanku dulu.

Advertisements