Tags

Bella membuka diary yang sudah hampir 10 tahun tak disentuhnya. Membuka halaman demi halaman, dengan tertawa, teringat bagaimana dulu semua yang tertulis pernah terjadi.

Sampai di satu halaman, ia lama diam disitu.  Membacanya dengan pelan, sampai akhirnya menangis.

**

Bandung, 22 Juli 2003.

Dear diary.

Hari ini kesel banget, sedih, malu, pokoknya campur aduk. Sama temen-temen tadi di sekolah nyeritain gimana pacar kita masing-masing. Terus Bella nyeritain kan gimana pacar Bella, si Jun. Dan Jun tuh nggak kaya cowok temen-temen Bella di sekolah, pokoknya nggak banget lah. Kalau ditulis gimana nggak bangetnya Jun dibanding pacar temen Bella yang lain, banyak. Bella kasih tau kamu ya, Di.

Satu, dia nggak punya handphone, padahal cowok-cowok temen Bella yang lain punya.

Dua, dia nggak punya motor sendiri, apalagi mobil. Temen Bella sering pulang bareng, atau dijemput pacarnya kalau beres main.

Tiga, dia nggak gaya. Biasa-biasa aja. Bajunya, sepatunya, rambutnya. Ya gitulah.

Empat, dia itu nggak suka ketempat-tempat dugem Di, padahal Bella suka banget ke sana, malu banget nggak sih punya cowok kayak gitu. Nggak gaul.

Lima, Jaket dia tuh itu-itu aja, kemejanya itu-itu aja, jarang banget ganti. Kan bosen liatnya.

Enam, dan yang ini banget-banget, karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makan siang ke sekolah! Gila yah, malu-maluin banget nggak sih!

Bandung, 14 Juli 2003

Hari Ini Bella ulang tahun, pas Evan ke kelas Bella mau kasih kado, Bella cuma diem aja. Seharian itu, Bella ngindarin Jun abis-abisan, dia bingung gitu kayaknya, kenapa Bella ngindar terus.

Sampe rumah Jun nelepon Bella, Bella suruh pembantu bilang ke Jun kalau Bella belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Bella males nerima.Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Bella ngindarin Jun pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di rumah Bella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Bella bener-bener udah illfeel dan malu pacaran sama Jun!

Akhirnya waktu itu hari Senin, seperti biasa pas di sekolah, Bella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Bella ngumpul di kantin sama temen-temen.Mereka pada nanya kok Bella ngindarin Jun terus Bella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Bella ngaku juga, ngomong, “Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah nggak ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? dipelet kali yah gue!!”

Tiba tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Bella, Bella bingung dan nengok, ya Tuhan, ternyata ada Jun di belakang Bella dan kayaknya dia denger yang baru ucapin barusan. Bella cuma bisa diem tapi Bella sempet ngeliat Evan sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ.

Bella diem aja, ada beberapa yang ngomong “Hayo loo Bel, dia denger lho!!”

Tapi ada juga yang ngomong, “Udahlah Bel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus.”

Bener juga yah, ya udah Bella cuek aja, syukur deh kalau dia denger. Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Bella.

Dua hari pun berlalu, dan sejak saat Jun udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelepon Vella. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Bella aja.

**

Setelah membaca, ia membuka laci. Mencari sebuah album foto. Di dalamnya ia banyak menemukan foto Jun, foto mereka berdua saat masih SMA. Dan ia pun menemukan sebuah kotak musik.

Kemudian ia mencari sebuah pulpen, diambilnya lagi buku diary tadi, dan mulai menulis.

**

Jakarta, 14 September 2013

Dear diary, udah lama ya aku nggak nulis di sini. Kamu apa kabar, Di (baca: Diary)? Di, kamu tau lagi Jannet Jackson yang liriknya “Doesn’t really matter what the eyes is seeing,Cause im in love with the Inner being”?

Perempuan 15 tahun yang nulis di atas itu kini sekarang sudah berubah menjadi wanita berusia 25 tahun, Di. Lama ya kita nggak ngobrol kaya gini. Perempuan 15 tahun itu mungkin belum bisa mengerti sampai akhirnya nulis seperti itu tentang Jun, tapi wanita berusia 25 tahun ini sekarang, mulai bisa mengerti, dan inilah yang akan aku tulis.

Jun mungkin nggak punya handphone, tapi dia selalu bisa menghubungiku melalui warung telepon yang kutahu jaraknya cukup jauh dari rumahnya.

Jun mungkin tak punya kendaraan sendiri, tapi dia selalu bisa mendatangi, menjemput, bahkan mengantar kemana aku ingin pergi.

Jun mungkin tak terlalu memperhatikan penampilannya, api dia selalu memperhatikanku, saat aku begitu cerewet menanyakan bagaimana rambut, baju, sampai sepatu, dia selalu memberikan jawaban yang karena dia memang selalu memperhatikan.

Jun mungkin tak suka pergi ke club, tapi dia mau untuk menjemput bahkan saat tengah malam dan dimarahi orang tuanya di rumah. Dengan tetap percaya bahwa aku tak akan macam-macam di belakangnnya.

Jun mungkin tak punya banyak jakcet atau kemeja, tapi yang dia punya itu selalu membuatku merasa lebih hangat ketika dia meminjamkannya untuk kupakai.

Jun mungkin membuatku malu karena sudah SMA tapi masih membawa bekal dari rumah. Tapi sekarang aku tahu, itu dilakukannya agar bisa menabung demi memberikan hadiah kotak musik pada ulang tahuku.

Kau tahu, Di? Jun adalah terbaik yang pernah ada, dan kusia-siakan. Dan sebagai hukuman, aku menemukanmu hari ini, yang akan selalu teringat bagaimana itu bisa terjadi, sampai kapanpun.

 

**

Sebuah cerpen lama yang entah siapa penulisnya, inti ceritanya sama, hanya kalimat dan nama yang kubuat berbeda.

Advertisements