Masih kuingat saat seperti subuh ini, pernah aku terbangun sebab dalam mimpi kau pucat hebat. Seperti ada sesal dimatamu yang mengingatkan pada apa yang sudah terlewat. Sedih di wajahmu betul kuingat, semoga nyatanya disana kau sehat, dan buruk tentangmu adalah salahku dalam berfirasat.

Masih kuingat pernah kau ingin berjalan diatas air, memimpikan berlari bebas berputar seperti kincir mungkin itu kupikir. Benar adanya ternyata apa yang dibilang para penyair, apapun dilakukan untuk sekedar membuat senyum yang dicinta dapat terukir. Sedikit banyak disana bahagia mengalir.

Masih kuingat bagaimana pernah kita saling berjanji, bahwa tak akan ada selain mati yang menjadi alasan tak lagi kita bersama dalam satu hati. Keras kau dan aku teriakan tentang seperti apa bahagia menjelmakan diri, mulut tak tertahan lagi mengucap yakin bahwa hanya kami dan tak akan ada selain lagi.

Suara langkahmu terdengar sampai kamar, kulihat kau menjauh sampai akhirnya bayangmu samar. Entah kemana, rasa kehilanganku ini harus bersandar.

Satu saja, ingkari apa yang terlanjur kan janjikan, saat hari itu dengan lantang kau katakan; “Aku pergi, dan tak akan kembali”.

 

Diambil dari novel karya Fahmy.

Advertisements